Merindu Hati
tidak ada yang bisa dipaksakan pagi ini, tak ada yang pernah memaksa
kenapa pagi datang dan setelah itu berganti siang, dan esok dia kembali
lagi. dan aku tak bisa paksakan kamu seperti aku dengan hanya diam tak
berbuat apa-apa dibanding kamu yang selalu menjadi buah rindu dia.
ya mungkin ini hasil ilusi-ilusi dari setiap kerja otak kananku yang
terlalu berharap besar tanpa menghiraukan aktivitas otk kiriku. bahkan
aku sering melupakan dimana matahari ternbenam karena aku terlalu
benci saat-saat itu, saat dimana banyak diskusi antara imajinasiku
berpacu lebih cepat daripada biasanya, ya malam-malampun hatiku tak
bekerja dengan baik. terkadang aku ingin mengingat dimana kuning memerah
itu perlahan-lahan tertutup awan yang menebal terhias kabut diujung
lafadz sang penciptaku. saat itu degup jantungku melemah, sayu mataku,
tulang-tulang penyanggah serasa lepas satu persatu, inderaku tak merasa
lagi, terpotong-potong hatiku ulah ilusi-ilusi yang kuciptakan sendiri.
aku bangun pagi, kuseduh kopi sebagai teman bagiku agar otak kananku
sedikit berpacu, memang tak ada roti atau pisang goreng setiap pagiku.
dengan lagak bak sodagar kaya raya aku mulai mengidupkan televisi dengan
chanel berita pagi ini, "anah.." tiba-tiba berita pagi ini burung yang
kehilangan sayap akibat sambaran petir yang hampir dua pekan belum
tuntas juga. terasa ada yang ganjil bibirku mulai sediit asam, haaa
ternyata disebelah bantal diatas buku yang kubaca tak tuntas itu ada
sebungkus kumpulan tembakau. asap itu melai mengepul di atas kepalaku.
memandang jauh asap itu membentuk seberkas wajah yang tak asing bagi
mataku, ahh aku yakin itu permainan otak kananku yang sudah tak waras
lagi aku pikir dan itu juga dampak dari buku yang kubaca semalam, walau
hanya sebagai pengantar dan berharap sebagaii benih buah mimpiku
semalam.
bagaimana ini terjadi aku merindu sedangkan otakku berjalan tidak selaras dengan hatiku.










