Kamis, 19 Maret 2015
Jumat, 13 Maret 2015
Merindu Hati
tidak ada yang bisa dipaksakan pagi ini, tak ada yang pernah memaksa
kenapa pagi datang dan setelah itu berganti siang, dan esok dia kembali
lagi. dan aku tak bisa paksakan kamu seperti aku dengan hanya diam tak
berbuat apa-apa dibanding kamu yang selalu menjadi buah rindu dia.
ya mungkin ini hasil ilusi-ilusi dari setiap kerja otak kananku yang
terlalu berharap besar tanpa menghiraukan aktivitas otk kiriku. bahkan
aku sering melupakan dimana matahari ternbenam karena aku terlalu
benci saat-saat itu, saat dimana banyak diskusi antara imajinasiku
berpacu lebih cepat daripada biasanya, ya malam-malampun hatiku tak
bekerja dengan baik. terkadang aku ingin mengingat dimana kuning memerah
itu perlahan-lahan tertutup awan yang menebal terhias kabut diujung
lafadz sang penciptaku. saat itu degup jantungku melemah, sayu mataku,
tulang-tulang penyanggah serasa lepas satu persatu, inderaku tak merasa
lagi, terpotong-potong hatiku ulah ilusi-ilusi yang kuciptakan sendiri.
aku bangun pagi, kuseduh kopi sebagai teman bagiku agar otak kananku
sedikit berpacu, memang tak ada roti atau pisang goreng setiap pagiku.
dengan lagak bak sodagar kaya raya aku mulai mengidupkan televisi dengan
chanel berita pagi ini, "anah.." tiba-tiba berita pagi ini burung yang
kehilangan sayap akibat sambaran petir yang hampir dua pekan belum
tuntas juga. terasa ada yang ganjil bibirku mulai sediit asam, haaa
ternyata disebelah bantal diatas buku yang kubaca tak tuntas itu ada
sebungkus kumpulan tembakau. asap itu melai mengepul di atas kepalaku.
memandang jauh asap itu membentuk seberkas wajah yang tak asing bagi
mataku, ahh aku yakin itu permainan otak kananku yang sudah tak waras
lagi aku pikir dan itu juga dampak dari buku yang kubaca semalam, walau
hanya sebagai pengantar dan berharap sebagaii benih buah mimpiku
semalam.
bagaimana ini terjadi aku merindu sedangkan otakku berjalan tidak selaras dengan hatiku.
Cerita Pagiku.
fatamorgana januari pagi
pagi memukul-mukul pintu ruang kosongku
membangunkan panorama adzan subuhku, tiba ketika itu aku berjanji meminta pada
bungaku untuk berucap berbeda setiap paginya. lalu aku lelapkan ilusi-ilusiku
didepan pertunjukan kelopak-kelopak yang membuka pesona agar sang jantan
membelai dan membuainya. daun-daun mulai berfotosintesis bak seorang ibu
menyiapkan dan menghantarkan makanan bagi seluruh anggota keluarganya. teratai
menguntai ribuan sajak -sajak membentuk formasi sambutan ceremony berlenggaang
kesana kemari kekanan dan kekiri semerbak pada sanubari. semut-semut merah
penghuni kamarku berbaris rapi dan wangi seperti serdadu tak ada belati
menyiapkn barisan siap mengamankan pagiku ada juga semut hitam sebagai regu penari
menginstrusikan tarian perdamaian. curut di ujung sudut terbangun sebagai
penghuni pemalas berlaku sebagai inspektur upacara. pasukan udara berkuasa
menjaga takala sesekalai ketika inspektur memberi tanda, atraksi-atraksi
terbang seperti sukoi akan menjadi kejutan bagi semua penghuni.
ini tak boleh aku biarkan kata otak kiri lalu aku
hentakan langkahku, pelan pelan aku putar volume lagu kesayangan minggu-mingggu
ini. terkenang wajahmu sayang seketika ini. debar-debar sebelum ceremony ini
ada yang menggangu sebagai komandan upacara pagi ini aku menginstrusikan
seluruh pasukan membentuk formasi bayangan itu lalu membingkainya agar pagi
jadi saksi kalaupun dapat abadi.
tobe continued...
Langganan:
Komentar (Atom)










